RSS

Pengaruh Pribadi Terhadap Perilaku Konsumen

Pengaruh Pribadi sebagai Faktor Keputusan Pembelian

Dalam memilih produk-produk yang diharapkan menjadi pengaruh pribadi kami memilih beberapa produk yang diharapkan menjadi pengaruh pribadi sebagai faktor dalam keputusan pembelian, yaitu:

  • Oli Motor

Pada produk oli motor, biasanya orang akan membeli oli motor dengan merek tertentu setelah melihat langsung atau mendengar langsung informasi fungsi, khasiat, dan keunggulan dari produk tersebut. Informasi yang didapat bisa dari kerabat, teman kerja dsb. Faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian terhadap produk oli motor ini biasanya pengaruh lisan. Konsumen biasanya akan meminta pendapat teman atau kerabat mengenai produk oli motor.

  • Sabun Pembersih Muka

Sabun pembersih muka (khususnya untuk wanita) memiliki pengaruh pribadi yang cukup besar. Para wanita akan mudah terpengaruh untuk menggunakan produk ini apabila ada salah satu atau beberapa teman yang menggunakan sabun muka merek tertentu dan memberikan hasil yang bagus. Mereka akan terpengaruhi dengan mudah dan ingin langsung membeli produk dan mencobanya sendiri.

  • Handphone

Handphone merupakan alat komunikasi yang telah dimiliki oleh hampir seluruh warga di dunia. Kecanggihan alat komunikasi ini semakin hari semakin berkembang. Contohnya adalah handphone dengan merek Samsung, aplikasi yang ditawarakan Samsung (tipe-tipe tertentu) tentu sangat menarik perhatian konsumen. Di Korea khususnya, pada iklan Samsung Galaxy dibintangi oleh beberapa artis ternama. Selain itu, sering sekali tokoh atau karakter dalam drama dan film Korea memperlihatkan beberapa tipe hanpdhone dari Samsung. Hal ini akan membuat konsumen lebih cenderung membeli Samsung Galaxy karena idola mereka yang mengiklankan dan memakainya.

Dalam kasus lain, pengaruh kerabat atau temanpun memiliki peranan penting dalam seseorang untuk pengambilan keputusan dalam membeli gadget. Kebanyakan konsumen mendapatkan informasi gadget dari kerabat atau temannya sebelum mencari tahu sendiri spesifikasi dari gadget tersebut.

  • Cat Rumah dan Karpet

Konsumen akan terpengaruh oleh kerabat atau temannya dalam hal pembelian produk cat rumah dan karpet. Pengaruh kerabat atau teman ini lebih cenderung memberikan pengaruh yang sangat besar pada ibu-ibu. Ibu-ibu rumah tangga yang sering sekali mengadakan acara arisan, kumpulan, atau pengajian sering sekali membicarakan atau mengomentari rumah teman atau kerabat yang mereka kunjungi. Mulai dari furniture (karpet), cat rumah, design rumah, dsb. Biasanya pembicaraan ibu-ibu ini mengenai merek dari cat rumah atau karpet, tempat pembelian, kelebihan, dan harganya. Hal ini tentu akan mempengaruhi pengambilan keputusan ibu-ibu rumah tangga atau konsumen lain misalnya suami-suami mereka dalam membeli produk cat rumah dan karpet sebagai salah satu pelengkap keindahan dan kenyamanan rumah mereka.

Variasi Pengaruh Pribadi pada Pilihan dan Merek Produk

Berdasarkan beberapa produk yang tertera pada pembahasan sebelumnya, adanya kemungkinan terjadinya variasi antara pengaruh pribadi pada pilihan dan nama atau merek suatu produk bisa saja terjadi. Hal ini karena, suatu pengaruh pribadi dari kelompok acuan akan memberikan tingkatan yang berbeda dalam mempengaruhi suatu pembelian produk. Misalnya konsumen ada yang dipengaruhi lemah oleh kelompok acuan pada pilihan produk, tetapi dipengaruhi kuat pada seleksi merek atau sebaliknya.

Produk

Pengaruh kelompok acuan yang lemah (-) Pengaruh kelompok acuan yang kuat (+)
Merek
Pengaruh kelompok acuan yang kuat (+) Kebutuhan umumPengaruh: produk lemah dan merek kuat

Contohnya: oli motor, cat rumah

Kemewahan umumPengaruh: produk dan merek kuat

Contohnya: handphone, kamera digital, karpet

Pengaruh kelompok acuan yang lemah (-) Kebutuhan pribadiPengaruh: produk dan merek lemah

Contohnya: sabun pembersih muka,

Kemewahan pribadiPengaruh: produk kuat dan merek lemah

Contohnya: minuman ringan, mesin cuci

 
Leave a comment

Posted by on October 10, 2013 in Analitical

 

Tags: , , ,

Pengaruh Keluarga Terhadap Perilaku Konsumen

1.  Keuntungan dan Kerugian Penggunaan Keluarga sebagai Unit Analisis

a.      Keuntungan

  • Banyak produk dibeli oleh konsumen ganda yang bertindak sebagai unit keluarga.
  • Ketika pembelian dibuat oleh individu, keputusan ppembelian individu bersangkutan mungkin sangat dipengaruhi oleh anggota lain dalam keluarganya.
  • Pembiayaan yang lebih mudah dibanding individu.

b.      Kerugian

Studi tentang keputusan keluarga sebagai konsumen kurang lazim dibandingkan studi tentang individu sebagai konsumen. Alasan untuk pengabaian dalam studi pembelian kelaurga adalah kesulitan dalam mempelajari keluarga sebagai organisasi. Survai dan metodelogi penelitian pemasaran lain lebih mudah dijalankan untuk individu daripada keluarga.

2. Perbedaan Peran Instrumental dan Peran Ekspresif dalam Keluarga

  • Peran Instrumental

Peran instrumental, yang juga dikenal sebagai peran fungsional atau ekonomi, melibatkan aspek keuangan, karakter performansi, dan sifat “fungsional” lain seperti kondisi pembelian.

Contoh iklan:

a. Iklan Lifebuoy Shampoo untuk Rambut Kuat dan Lebat (Versi Ulang Tahun)

Iklan ini menceritakan anak yang berkeinginan mempunyai rambut kuat dan lebat di hari ulang tahunnya. Kemudian ibunya menjanjikan kepada puterinya untuk membuat rambut dia menjadi kuat dan lebat dengan menggunakan Lifebuoy Shampoo. Hal ini menunjukkan peran seorang ibu yang mampu menganjurkan suatu produk dalam kondisi tertentu dan meyakinkan anaknya terhadap produk tersebut.

b. Iklan Asuransi Sequislife

Iklan ini menunjukkan pentingnya perang orang tua terhadap pencapaian rasa ingin tahu dan penggapaian cita-cita seorang anak. Dalm hal ini pihak orang tua harus mampu menjamin biaya pendidikan anaknya misalnya dengan menjadi nasabah asuransi pendidikan Sequislife.

  • Peran Ekspresif

Peranan ekspresif melibatkan dukungan kepada anggota keluarga yang lain dalam proses pengambilan keputusan dan kebutuhan estetik atau emosi keluarga, termasuk penegakan norma keluarga.

Contoh iklan:

a. Iklan Iklan Tropicana Slim (Versi Seperti Papah)

Iklan ini menceritakan tentang seorang anak yang selalu ingin seperti ayahnya. Ayahnya suka makanan manis, dia pun ikut menyukai makanan manis. Tetapi ketika ayahnya terkena penyakit diabetes, untuk pertama kalinya dia tidak ingin menjadi seperti ayahnya. Oleh karena keturunan diabetes 6 kali lebih berisiko, ibunya menganjurkan suami dan anaknya untuk mengkonsumsi gula Tropicana Slim Diabetes (suami) dan Tropicana Slim Classic (anak). Padahal mungkin saja anaknya ini ingin mengkonsumsi gula biasa misalnya Gulaku. Akan tetapi karena ada pengaruh dari anggota keluarga lain yaitu ibu dan ayahnya.

b. Iklan Daia (versi Enemy No More)

Iklan ini menceritakan seorang ibu rumah tangga yang setiap pagi perang dengan cucian. Tiba-tiba ada ibu rumah tangga lain dari tetangganya yang memberitahu bahwa ada deterjen yang lebih baik. Beliau menganjurkan untuk menggunakan deterjen merek daia kepada ibu tersebut. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi pengambilan keputusan ibu itu terhadap pembelian deterjen. Jadi, iklan ini menunjukkan adanya pengaruh atau dukungan dari keluarga lain (tetangga) dalam pengambilan keputusan pembelian seorang ibu rumah tangga.

3. Variabel yang Harus Dipertimbangkan Mengenai Wanita yang Bekerja di Luar Rumah

Dunia kerja merupakan dunia yang dinamis. Perubahan terus terjadi demi kemajuan perusahaan. Tren yang berkembang saat ini adalah wanita sekarang mempunyai angka yang lebih tinggi dalam pekerjaan di luar rumah dibandingkan dengan era yang lalu. Dahulu tugas wanita hanya mengurus anak, suami dan rumah tangga, maka saat ini peran tersebut sudah bergeser. Telah banyak wanita yang bekerja di perusahaan maupun organisasi. Hal ini terjadi karena:

  1. Populasi wanita bertumbuh lebih cepat daripada populasi pria disebabkan oleh angka kelangsungan hidup wanita yang lebih tinggi.
  2. Lebih banyak wanita mengikuti kuliah di perguruan tinggi dibandingkan pria, dalam kontras yang tajam dengan masa lalu.

Variabel yang harus dipertimbangkan:

1. Tingkat pendidikan

Tingkat pendidikan seorang wanita yang lebih tinggi cenderung akan membuat wanita tersebut untuk bekerja di luar rumah daripada hanya tinggal dirumah untuk mengurus anak dan rumah tangga.

Wanita yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan lebih memperhatikan produk apa yang akan mereka beli. Contohnya adalah produk susu bayi, para ibu rumah tangga yang berpendidikan akan memilih produk susu bayi yang berkualitas dan memiliki nilai gizi yang baik untuk anaknya.

2. Gaya hidup

Terdapat beberapa gaya hidup yang dimiliki oleh seorang wanita misalnya tradisionalis, moderat, dan feminis. Feminis dan moderat lebih mudah daripada tradisionalis dan umumnya lebih terdidik serta lebih mungkin bekerja punya waktu.

Wanita yang terbiasa dengan gaya hidup mewah cenderung tidak akan puas jika hanya mengandalkan penghasilan dari suami saja, sehingga ia pun ingin menambah pendapatan lain agar semua kebutuhannya terpenuhi.

Gaya hidup seseorang menentukan keputusan pembelian suatu produk, para wanita yang memiliki gaya hidup mewah cenderung memilih barang-barang yang memiliki merek terkenal dan harga yang mahal untuk mereka digunakan.

3. Kondisi ekonomi

Kondisi ekonomi yang lemah merupakan salah satu alasan wanita untuk bekerja di luar rumah. Hal ini dilakukan oleh seorang wanita untuk membiayai kebutuhan hidupnya yang tidak akan terpenuhi jika ia tidak bekerja.

Pemilihan suatu produk yang akan digunakan disesuaikan dengan pendapatan yang diperoleh. Sehingga wanita dengan kondisi ekonomi yang lemah akan memilih produk yang sesuai dengan kebutuhannya.

 
Leave a comment

Posted by on October 10, 2013 in Analitical

 

Tags: , ,

Analisis LIngkungan Internal dan Eksternal Usaha Budidaya Ayam Arab

1. LINGKUNGAN INTERNAL

Lingkungan internal perusahaan memiliki kemampuan untuk merubah suatu perusahaan menjadi apa yang dicita-citakan oleh manajemen. Lingkungan internal merupakan proses pengidentifikasian terhadap faktor-faktor yang menjadi kekuatan dan kelemahan suatu perusahaan. Proses internal perusahaan tersebut dapat dianalisis dengan menggunakan pendekatan fungsional yaitu analisis yang dilakukan oleh masing-masing fungsi dalam perusahaan dengan mengkaji manajemen, pemasaran, keuangan, produksi, dan sumberdaya manusia.

1.1 Manajemen

       a.  Perencanaan

             Untuk memulai perencanaan usaha ini, belum dilakukan perencanaan secara tertulis baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Hal ini dilihat dari belum adanya visi, misi, dan tujuan usaha yang dirumuskan secara tertulis, jelas, dan spesifik.

      b.  Pengorganisasian

            Komando dilakukan oleh manajer, kemudian unit-unit di bawahnya hanya melaksanakan hal-hak yang telah direncanakan oleh manajer.

      c.   Pengendalian

            Pengendalian bahan baku akan pakan dan obat-obatan akan dilakukan di dalam gudang. Pengendalian budidaya ayam arab dilakukan untuk mencegah risiko kegagalan yang lebih besar dalam  usaha ayam arab.

1.2  Keuangan

        Saya dalam mengusahakan ayam arab petelur akan menggunakan modal pinjaman. Aset tetap yang digunakan dalam usaha ayam arab milik sendiri. Aset tersebut antara lain, lokasi usaha, bangunan kandang, tempat pakan, tempat minum dan lain-lain. Pencatatan data keuangan bisa dilakukan dengan baik karena dapat memanfaatkan komputerisasi, sehingga dapat menghemat waktu dan risiko kesalahan dalam proses pencatatan.

1.3  Pemasaran

        a.   Produk

               Karakteristik telur yang dihasilkan perusahaan yaitu memiliki ukuran telur yang ideal (rata-rata 35 gram), memiliki kerabang telur berwarna putih, bersih, mengkilap, dan warna kuning telur orange cerah. Karakteristik telur seperti itu ysng banyak diminati oleh konsumen. Produk telur memiliki kualitas yang sangat bai dalam hal kandungan gizi.

        b.   Harga

               Penetapan harga pada produk usaha didasarkan atas pendeketan persaingan. Saat ini, penetapan harga telur berkisar 1500-1600 per butir. Penetapan harga yang diberikan kepada pengumpul dan konsumen akhir adalah sama

         c.   Promosi

               Dalam memasarkan produknya perusahaan melakukan promosi. Untuk memasarkan telur ayam arab perusahaan melakukan promosi, dengan cara melalui brosur-brosur, pameran, stiker, dan dari mulut ke mulut.

 

2. LINGKUNGAN EKSTERNAL

Dalam analisis lingkungan eksternal dapat dicari apa saja yang menjadi peluang dan ancaman yang mungkin menjadi pertimbangan perusahaan dalam menentukan strategi usaha ke depan.

1.1         Faktor Lingkungan Sosial, Budaya, Demografi, dan Lingkungan

Lingkungan sosial, budaya, dan demografi merupakan kekuatan luar yang mempengaruhi suatu perusahaan. Perilaku sekelompok masyarakat dalam suatu komunitas dapat merupakan peluang yang dapat dimanfaatkan oleh perusahaan, tetapi di sisi lain dapat berupa ancaman yang harus dihindari. Keadaan sosial, budaya, demografi, dan lingkungan suatu daerah, diantaranya pertumbuhan penduduk, perilaku konsumsi, serta merebaknya penyakit flu burung di beberapa daerah di Indonesia.

               a.  Pertumbuhan Jumlah penduduk

Salah satu faktor yang berpotensi untuk meningkatkan pangsa pasar bagi setiap bidang usaha di suatu wilayah adalah peningkatan jumlah penduduk. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki jumlah penduduk terbanyak di dunia Peningkatan jumlah penduduk tersebut menyebabkan peningkatan konsumsi khususnya konsumsi pangan

                b.  Perilaku Konsumsi

Gaya hidup masyarakat Indonesia saat ini cenderung mengarah ke sifat alamiah (back to nature). Hal ini dikarenakan ayam arab umumnya memiliki ketahanan tubuh yang lebih kuat terhadap penyakit. Dengan demikian, penggunaan obat-obat kimia untuk ayam arab petelur juga relatif lebih sedikit. Hal ini yang menyebabkan konsumen yang mengkonsumsi telur ayam arab karena lebih alami. Oleh karena itu, telur ayam arab tidak hanya dikonsumsi matang, tetapi sering juga dikonsumsi mentah sebagai campuran madu, susu, atau jamu dengan dalil untuk menambah vitalitas atau kebugaran tubuh. Selain itu, telur ayam arab juga banyak digunakan sebagai obat dan kosmetik. Sehingga dengan adanya perubahan pola konsumsi masyarakat Indonesia yang mengarah ke sifat alamiah (back to nature) menjadi peluang bagi pelaku usaha ayam arab petelur untuk mengembangkan usahanya.

                c.  Merebaknya Penyakit Flu Burung

Sejak tahun 2003 usaha peternakan unggas terkendala dengan masalah yang sangat serius yaitu merebaknya penyakit Avian Influenza (flu burung) di beberapa daerah di Indonesia. Merebaknya penyakit flu burung telah menimbulkan banyak kerugian baik materil maupun non materil. Dampak flu burung yang disebabkan oleh virus Avian Influenza (AI) subtipe H5N1 adalah munculnya penyakit flu burung bagi manusia yang dapat menimbulkan kematian. Selain itu, penyakit flu burung juga dapat menimbulkan kerugian bagi industri peternakan unggas yang menyebabkan hilangnya keuntungan milyaran rupiah yang dialami peternak maupun bagi pemerintah.

1.2         Lingkungan Politik, Hukum, dan Pemerintah

              a.   Kebijakan Pemerintah yang Mendukung Usaha Ayam Buras/Lokal yaitu Adanya Pemberian Kredit dan Hibah

Kebijakan pemerintah tentang Undang-Undang No. 20 tahun 2008 tentang usaha mikro, kecil, dan menengah (UKMK). Dimana dengan diberlakukannya otonomi daerah maka setiap daerah diberi kewenangan untuk ikut serta dalam mengatur rumah tangga daerahnya sendiri, termasuk pengembangan usaha.Dengan adanya otonomi daerah, maka peluang untuk mengembangkan usaha bagi setiap daerah akan semakin terbuka.

Untuk meningkatkan akses Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UKMK) terhadap sumber pembiayaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 22 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 maka pemerintah daerah bersama Dinas KUKM akan memberikan kemudahan dan memfasilitasi dalam memenuhi persyaratan untuk memperoleh pembiayaan, menumbuhkan, mengembangkan, dan memperluas jangkauan pinjaman kredit dan hibah.

Kebijakan pemerintah melalui pemerintah daerah saat ini menggalakan usaha berbasis agribisnis sebagai peluang. Salah satunya adalah kebijakan pemerintah memberikan bantuan kepada sektor peternakan berupa hibah dan kredit.

               b.   Kebijakan Pemerintah Untuk Mencegah Penyakit Flu Burung

Untuk mencegah menyakit flu burung tersebut maka pemerintah mengeluarkan kebijakan yaitu Peraturan Menteri Pertanian Nomor 50/Permetan/OT.140/10/2006 pada tanggal 17 Oktober 2006, tentang pedoman pemeliharaan unggas di pemukiman. Tujuan ditetapkan pedoman ini adalah agar dapat dihindari kemungkinan terjadinya penyakit Avian Influenza (flu burung) pada unggas yang dipelihara di pemukiman. Sehingga dengan adanya pedoman dalam menghindari adanya penyakit flu burung dapat menjadi peluang bagi pelaku usaha yang bergerak dalam peternakan unggas.

1.3         Lingkungan Teknologi

              a.  Perkembangan Teknologi Dalam Proses Produksi

Adanya perkembangan teknologi dalam proses produksi adalah adanya vaksin pencegah penyakit, dengan pemberian vaksin pencegahan penyakit tersebut dapat mencegah ayam sakit dan mati. Sehingga hal ini bagi pelaku usaha peternakan unggas dapat mencegah kerugian yang lebih besar akibat ayam sakit atau mati. Pemanfaatan perkembangan teknologi dalam proses produksi adalah adanya alat-alat yang dapat mendukung usaha ayam buras/lokal, misalnya mesin tetas. Mesin tetas merupakan alat yang digunakan untuk menetaskan telur untuk tujuan menghasilkan DOC. Adanya mesin tetas dapat menghasilkan DOC dengan daya tetas antara 80-90 persen, apabila tidak menggunakan mesin tetas dapat menghasilkan telur dengan daya tetas 60-75 persen.

              b.  Perkembangan Teknologi di Aspek Pemasaran

Adanya perkembangan teknologi dalam bidang komunikasi, seperti adanya telepon dan hand phone makamempermudah komunikasi antara pelaku usaha dengan pemasok bahan baku atau antara pelaku usaha dengan pelanggan ketika melakukan pemesanan produk. Perkembangan teknologi dalam bidang informasi seperti adanya internet. Adanya internet dapat memudahkan pelaku usaha untuk memperkenalkan dan mempromosikan produknya secara lebih luas. Perkembangan teknologi dalam bidang transportasi seperti adanya pesawat terbang dapat mempercepat pendistribusian produk dari produsen hingga konsumen. Untuk mendukung pemasaran produknya, peternakan Trias Farm telah memanfaatkan perkembangan teknologi dalam bidang telekomunikasi, informasi, dan transportasi.

1.4         Analisis Lingkungan Industri

  1. Persaingan dengan Industri Sejenis
  2. Masuknya pendatang Baru

1)      Hambatan Masuk ke Dalam Industri Peternakan Ayam Arab

Sulit mendapatkan DOC karena perusahaan pembibitan masih sedikit yang mengusahakan pembibitan DOC ayam arab.

2)      Kebutuhan Modal

Kebutuhan modal yang digunakan untuk membuka usaha peternakan ayam arab cukup besar. Hali ini bisa dilihat dari biaya investasi yang besar untuk kandang dan lahan, harga DOC yang mahal yaitu Rp. 5000/ekor dan pembelian pakan dan obat-obatan, sedangkan penerimaan baru diperoleh selama kurang lebih lima bulan.

3)      Akses dalam Saluran Distribusi

Pendatang baru mungkin sulit memasuki saluran yang ada dan harus mengeluarkan biaya yang besar untuk membangun saluran sendiri. Hal ini disebabkan karena peternak yang mengusahakan ayam arab telah terlebih dahulu memiliki jaringan saluran distribusi dan bersifat langganan permanen. Sehingga dengan kesulitan dalam akses terhadap saluran pendistribusian membuat pendatang baru sulit untuk memasuki usaha peternakan ayam arab.

4)      Persaingan dengan Produk Substitusi

Keberadaan produk subsitusi ini akan membatasi potensi suatu perusahaan. Jika perusahaan tidak mampu meningkatkan daya saing, maka laba dan pertumbuhan perusahaan dapat terancam. Produk subsitusi ini juga menjadi pilihan bagi konsumen. Produk subsitusi dari telur ayam arab adalah telur ayam ras. Telur ayam ras tidak menjadi pesaing bagi telur ayam arab, walaupun harga telur ayam arab lebih mahal dibandingkan telur ayam ras.

 
Leave a comment

Posted by on October 10, 2013 in Analitical

 

Tags: , , , ,

PENGARUH GLOBALISASI (REVOLUSI PEMASARAN) TERHADAP KOMODITI BERAS DI INDONESIA

PENDAHULUAN

1.1          Latar Belakang

Pada era globalisasi atau perdagangan bebas Indonesia diperkirakan akan menjadi salah satu target pemasaran beras impor yang menarik. Untuk mengetahui kemampuan bersaing beras kita dengan beras impor, maka perlu dilakukan pengkajian/survei terhadap sebaran mutu beras yang dihasilkan oleh penggilingan padi dan di pedagang beras di tingkat pasar.

Pertanian di Indonesia abad 21 harus dipandang sebagai suatu sektor ekonomi yang sejajar dengan sektor lainnya. Sektor ini tidak boleh lagi hanya berperan sebagai aktor pembantu apalagi figuran bagi pembangunan nasional seperti selama ini diperlakukan, tetapi harus menjadi pemeran utama yang sejajar dengan sektor industri. Karena itu sektor pertanian harus menjadi sektor moderen, efisien dan berdaya saing, dan tidak boleh dipandang hanya sebagai katup pengaman untuk menampung tenaga kerja tidak terdidik yang melimpah ataupun penyedia pangan yang murah agar sektor industri mampu bersaing dengan hanya mengandalkan upah rendah.

Sistem pemasaran beras memilikiketerkaitan yang cukup erat dengan tingkat pendapatan petani. Makalah ini mengkaji tentang pola pemasarangabah atau beras di Indonesia untuk melihat ssecara lebih mendalam fungsi dari masing-masing tingkatan perdagangan beras. Sistem pemasaran pangan tidak terlepas dari peranan pemerintah, nammun bagaimana peranan pemerintah dalam suatu pasar seharusnya masih menjadi polemik. Bentuk sasaran intervensi pemerintah dalam mekanisme pasar tersebut bervariasi antara negaramaju dan negara berkembang.

1.2          Rumusan Masalah

Dalam upaya memecahkan berbagai masalah dalam makalah ini, perlu kiranya masalah diidentifikasi terlebih dahulu agar permasalahan menjadi jelas. Adapun yang menjadi rumusan dari masalah ini adalah seberapa pengaruhkah globalisasi atau revolusi pemasaran terhadap komoditas agribisnis di Indonesia?

1.3          Tujuan Masalah

Sesuai dengan masalah yang akan dibahas, maka tujuan dari penyusunan masalah ini adalah sebagai berikut.

1.3.1     Untuk memperoleh gambaran tentang dampak yang terjadi akibat globalisasi komoditas pertanian, khususnya beras.

1.3.2     Mengetahui tentang ciri atau karakter dari globalisasi agribisnis.

LANDASAN TEORI

2.1          Pengertian Agribisnis

Agribisnis merupakan istilah yang baru dikenal sejak awal dekade 1970-an di Indonesia.  Agribisnis adalah kegiatan ekonomi yang berhulu pada dunia pertanian yang mencakup semua kegiatan mulai dari pengadaan dan penyaluran sarana produksi sampai pada kegiatan tataniaga produk pertanian yang dihasilkan oleh usahatani (Downey dan Erickson, 1987 dalam Zakaria, 2002).

Tetapi menurut pendapat Pengertian Agribisnis Menurut Downey and Erickson (1987) dalam Saragih (1998) menyatakan bahwa agribisnis adalah kegiatan yang berhubungan dengan penanganan komoditi pertanian dalam arti luas, yang meliputi salah satu atau keseluruhan  dari mata rantai produksi, pengolahan masukan dan  keluaran produksi (agroindustri), pemasaran masukan-keluaran pertanian dan kelembagaan penunjang kegiatan. Yang dimaksud dengan berhubungan adalah kegiatan usaha yang menunjang kegiatan pertanian dan kegiatan  usaha yang ditunjang  oleh kegiatan pertanian yang dimulai dari hulu hingga hilir dan didukung oleh sarana pendukung yang memadai.

Sistem Agibisnis

2.2          Globalisasi Agribisnis

Globalisasi agribisnis adalah perpaduan antara komersialisasi dan modernsasi teknologi membuat perolehan dan sarana produksi maupun produk pertanian semakin tergantung pada kondisi pasar luar. Beberapa manfaat yang dapat diperoleh dengan memasuki pasar global menurut Simatupang, Pack, Choi, dan Feeder adalah peningkatan volume pertanian, harga jual produk yang lebih tinggi, harga sarana produk yang lebih murah, ilmu pengetahuan dan teknologi, modal investasi, peningkatan efisiensi akibat realokasi sumber daya dan dorongan persaingan. Dari definisi ini paling tidak ada dua aspek penting yang harus kita catat. Pertama, keunggulan komparatif (menghasilkan barang yang lebih murah dari pesaing) tidak menjamin teraihnya keunggulan kompetitif. Disamping keunggulan kemparatif, keunggulan kompetitif sangat ditentukan oleh kemampuan untuk memasok produk dengan atribut (karakter) yang sesuai dengan keinginan konsumen. Hal ini berarti, bahwa agribisnis dan pembangunan pertanian yang berorientasi pada peningkatan produksi dan dengan harga yang serendah mungkin (cheap production oriented) sudah tidak sesuai dengan dinamika pasar mutakhir. Dalam era globalisasi usaha produksi komoditas pertanian (agribisnis) haruslah diorientasikan kepada konsumen (consumer oriented agribusiness).

Kedua, keunggulan kompetitif merupakan hasil interaksi dari tiga tingkatan pasar yaitu pasar internasional dari produk, pasar domestik dari produk, dan pasar sarana produksi. Dengan kata lain, keunggulan kompetitif suatu komoditas pertanian, merupakan hasil resultan dari rantai agribisnis secara vertikal mulai dari perolehansarana produksi, usaha tani, pemasaran domestik, dan pemasaran internasional. Oleh karena itu, koordinasi vertikal petani agribisnis antara-agribisnis hilir sangatlah diperlukan untuk meningkatkan keunggulan kompetitif. Dari berbagai dinamika yang terdapa pada sistem agribisnis tersebut, penulis tertarik untuk membahas mengenai dampak atau pengarus dari globalisasi terhadap salah satu komoditas agribisnis.

 PEMBAHASAN

 

3.1          Globalisasi Agribisnis Indonesia

Pertanian di Indonesia abad 21 harus dipandang sebagai suatu sektor ekonomi yang sejajar dengan sektor lainnya. Sektor ini tidak boleh lagi hanya berperan sebagai aktor pembantu apalagi figuran bagi pembangunan nasional seperti selama ini diperlakukan, tetapi harus menjadi pemeran utama yang sejajar dengan sektor industri. Karena itu sektor pertanian harus menjadi sektor moderen, efisien dan berdaya saing, dan tidak boleh dipandang hanya sebagai katup pengaman untuk menampung tenaga kerja tidak terdidik yang melimpah ataupun penyedia pangan yang murah agar sektor industri mampu bersaing dengan hanya mengandalkan upah rendah.

Terpuruknya perekonomian nasional pada tahun 1997 yang dampaknya masih berkepanjangan hingga saat ini membuktikan rapuhnya fundamental ekonomi kita yang kurang bersandar kepada potensi sumberdaya domestik. Pengalaman pahit krisis moneter dan ekonomi tersebut memberikan bukti empiris bahwa sektor pertanian merupakan sektor yang paling tangguh menghadapi terpaan yang pada gilirannya memaksa kesadaran publik untuk mengakui bahwa sektor pertanian merupakan pilihan yang tepat untuk dijadikan sektor andalan dan pilar pertahanan dan penggerak ekonomi nasional. Kekeliruan mendasar selama ini karena sektor pertanian hanya diperlakukan sebagai sektor pendukung yang mengemban peran konvensionalnya dengan berbagai misi titipan yang cenderung hanya untuk mengamankan kepentingan makro yaitu dalam kaitan dengan stabilitas ekonomi nasional melalui swasembada beras dalam konteks ketahanan pangan nasional.

3.2          Mata Rantai Pemasaran Beras

Salah satu isu aktual saat ini berdasarkan data Badan Pusat Statistik adalah Indonesia masih surplus beras secara nasional, namun ternyata harga beras di pasar masih tinggi dan cenderung mengalami kenaikan.

“Hal tersebut terjadi karena ada permasalahan pada  manajemen stok dan perimbangan margin share pada setiap level tataniaga perberasan nasional sebagai memicu terhadap kenaikan harga,” kata Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Prof Zaenal Bachruddin pada Temu Wicara dengan Pelaku Usaha Perberasan di Gunung Kidul, Yogyakarta.

Menurutnya, pemasaran hasil gabah/ beras di Indonesia umumnya melewati mata rantai yang cukup panjang, sehingga seringkali merugikan petani maupun konsumen. Petani menerima harga yang rendah, sedangkan konsumen harus membayar dengan harga yang tinggi. Selama pelaku yang terlibat dalam tata niaga gabah/beras tidak mendapat margin yang adil, maka sulit bagi Indonesia untuk mengembangkan industri beras yang baik.

Dalam rangka upaya mengembangkan industri beras nasional yang lebih berkeadilan, lanjut Zaenal Bachruddin perlu dirancang sistem manajemen stok beras yang mampu mengatur suplai dan deman yang tepat sehingga terbentuk tingkat harga yang layak baik di tingkat petani maupun konsumen, di samping itu diharapkan dapat menjamin ketersediaan beras sepanjang tahun dengan harga yang terkendali.

Berdasarkan hasil kajian stok beras yang telah dilaksanakan oleh Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (Ditjen P2HP) perilaku stok di tingkat petani berdasarkan proporsi terbesarnya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga dan motif berjaga-jaga atau kepentingan sosial. Dengan semakin kecilnya hasil panen padi petani, maka proporsi gabah yang di stok akan lebih besar.

Kondisi itu mengakibatkan ketersediaan beras di pasar tidak sebesar hasil panennya. Jumlah stok di tingkat rumah tangga berkisar antara 14-19 persen dari hasil panennya. Kecenderungan untuk melakukan stok dipengaruhi oleh pengalaman sebelumnya terkait dengan penurunan produksi dan peningkatan harga beras. Harga beras yang terus-menerus mengalami gejolak akan menimbulkan motif stok yang lebih besar di musim berikutnya.

3.3          Peran Pemerintah Dan Perkembangan Pasar

Sistem pemasaran merupakan bagian yang penting dari mata rantai barang sejak diproduksi sampai ke tangan konsumen. Sistem pemasaran juga dapat menentukan efisiensi pasar suatu tataniaga barang termasuk pangan.

Peran pemerintah dalam pemasaran pangan berbeda antara satu negara dengan negara lain. Hal ini dapat disebabkan oleh perbedaan kepentingan maupun tujuan dalam penanganan pasar pangan dalam negeti. Secara empiris ditemukan bahwa sistem pemasaranpangan di beberapa negara juga mengalami pergeseran termasuk peran pemerintah didalamnya. Bila dikaitkan dengan era perdagangan bebas dan pasar global serta pergeseran perekonomian ke arah industri, maka mengkaji pergeseran sistem pemasaran dalam pasar pangan sangat relevan sebagai upaya untuk meningkatkan efisiensi pasar dalam rangka menciptakan dan mempertahankan mekanisme pasarpangan yang sehat.

Di negara maju, peranan pemeritah yang dominan munculkarrena sesuai dengan kebutuhan untuk membangun kembali negara-negaraakibat PD II. Peran pemerintah juga diharapkan sebagai cara yang baik dalam perekonomian dengan melakukan koordinasi investasi dan tabungan agar tercapai kondisi full-employment, perluasan sistem kesejahteraan, sertatugas stabilisasi. Sementara itu untuk negara-negara berkembang, investasi pemerintah biasanya untuk melindungi industri yang baru lahir sebgai strategi substitusi impor antara lain dalam bentuk proteksi maupun subsidi. Peran pemerintah dalam mekanisme pasara juga diharapkan sebagai penjaga keseimbangan makro dan penyedia jasa dan barang publik serta sebagai koordinasi dalam mengupayakan sinergisme alokasi sumber daya ekonomi sehingga dapat membentuk transfer yang efektif untuk mengubah symber daya potensial menjadi sumber daya efektif (Indrawati, 1997).

3.4          Perubahan Preferensi Konsumen

Perubahan preferensi konsumen dari komoditas ke produk tidak hanya berlangsung di negara maju (luar negeri), tetapi juga  di dalam negeri. Benyak teori yang menyatakan bahwa perubahan tingkat pendapatan dan pendidikan telah mendorong perubahan preferensi konsumen terhadap produk pangan yang akan dibeli (Streeter et al., 1991; Barkema, 1993; Drabenstott, 1994 dalam Simatupang, 1995). Kalau dulu (tradisional), atribut utama yang mencirikan preferensi konsumen hanyalah : jenis, kenyamanan,, stabilitas harga dan nilai komoditas, maka dewasa ini konsumen telah pula menuntut tambahan atribut produk yang lebih rinci, seperti kualitas (komposisi bahan baku), kandungan gizi (lemak, kolesterol, kaloridan sebagainya), keselamatan (kandungan aditif, pestisida, dan sebagainya),aspek lingkungan (apakah produk tersebut dihasilkandengan usahatanidan proses pengolahan produk yang tidak mengganggu kalitas dankelstarian lingkungan hidup).

Dengan kata lain, sekarang pada umumnya konsumen tidak lagi membeli komoditas, melainkan membeli produk. Sebagai contoh, dewasa ini konsuen pada umumnya tidak lagi sekedar membeli beras (komoditas), mlainkan beras yang mengandung nutrisi tertentu, kandungan glukosa yang rendah, dan proses produksinya tidak menggunakan bahan kimia (beras organik).

3.5          Revolusi Pemasaran Komoditas Beras di Indonesia

Kinerja pemasaran memegang paeranan sentral dalam mengembangkan komoditas pertanian. Perumusan strategi dan program pengembangan pemasaran yang kondusif dan efisien akan memberikan kontribusi positif terhadap beberapa terhadap beberapa aspek, yaitu (a) mendorong adopsi teknologi, peningkatan produktivitas dan efisiensi, serta dayasaing komoditas pertanian. (b) meningkatnya kinerja dan efektivitas kebijakan yang terkait dengan program stabilisasi harga keluaran dan (c) perbaikan perumusan kebijakan perdagangan domestik dan internasional (ekspor dan impor) secara lebih efektif dan efisien.

Terdapat sejumlah faktor (intrinsik dan eksternal) yang berpengaruh terhadap kinerja pemasaran produk pertanian. Secara intrinsik, faktor yang berpengaruh diantaranya adalah struktur pasar, tingkat intergritas pasar, dan margin pasar. Bentuk pasar yang mangarah kepadapasar monopoli akan berpengaruh terhadap tingkat kompetisi yang akan berdampak terhadap pembentukan harga. Faktor eksternal yang berpengaruh padda hakekatnya adalah terkait dengan kebijakan pemerintah, seperti perkembangan infrastruktur pemasaran, stabilisasi harga output, perpajakan dan redistribusi, kebijakan pengemabangan produk dan pengolahan hasil pertanian, dan lain-lain.

Berkaitan dengan pola pemasaran beras, hingga saat ini pola pemasaran beras di tingkat petani tidak mengalami perubahan yang berarti. Terlepas dari keunikan pola pemasaran beras di daerah di Indonesia, namun ada satu hal yang secara prinsip sama, yaitu rentannya posisi tawar petani dalam menjual beras. Dengan kondisi tersebut petani selama ini lebih berperan sebagai penerima harga, sementara pembuat harga dominan dilakukan oleh para pedagang beras.

3.6          Periode Harga Terkendali (Orde Baru)

Pada era orde baru, stabilitas harga beras merupakan salah satu kebijakan yang utama. Terjadinya ketidakstabilan harga gabah dan beras dapat dilihat dari dua sisi yang berbeda yaitu ketidakstabilan antar musim, yaitu musim panen dan musim panceklik dan ketidakstabilan antar tahun, karena pengaruh iklim seperti kekeringan atau kebanjiran dan fluktuasi harga beras sulit diramalkan. Dengan demikian dapat dikatakan baahwa stabilitas harga melewati batas musim dan tahun.

Ketidakstabilan harga antar musim terkait erat dengan pola panen, yaitu panen raya yang berlangsung pada bulan Februari – Mei (60-65% dari total produksi nasional), panen musim gadu pertama yang berlangsung antara Juni – September (25-30%) dan sisanya panen antara bulan Oktober – Januari (5-15%). Bila harga beras akan jatuh pada musim panen raya dan meningkat tajam pada musim panen panceklik (Oktober – Januari). Ketidakstabilan harga tersebut, dapat memukul produsen pada musim panen, dan sebaliknya memberatkan konsumen pada musim panceklik. Pada saat itu, berbagai instrumen kebijakan digunakan untuk mengamankan harga beras. Instrumen tersebut dapat digolongkan ke dalam dua tingkatan yaitu tingkatan usaha tani berupakebijakan subsidi harga input-output dan tingkat pasar berupa manajemen stok dan monopoli impor oleh Bulog.

Adanya kebijakan stabilisasi harga tersebut, tentu saja berpengaruh cukup besar terhadap pola tataniaga dari komoditas beras. Suatu kondisi yang unik pada saat itu adalah peranan KUD yang cukup besar dalam membantu petani untuk mendapatkan harga beras atau gabah sesuai dengan harga dasar, khususnya pada saat musim panen raya.

3.7          Pengaruh Globalisasi Agribisnis Beras

Globalisasi sangat berpengaruh kepada kestabilan ekonomi dan politik Indonesia. Internalisasi nilai keberlanjutan alam (lingkungan) dan sosial kedalam preferensi konsumen beras, liberalisasi perdagangan dan investasi, serta revolusi teknologi informasi, telekomunikasi dan transportasi. Globalisasi agribisnis erat kaitannya dengan revolusi pemasaran (market revolution), yaitu perubahan dan cepat pada sifat, struktur dan perilaku barang konsumen agribisnis.

Globalisasi agribisnis menyebabkan cakupan pemasaran semakin meningkat dari pemasaran lokal kemudian ke nasional hingga akhirnya sasaran perdagangan beras tersebut masuk ke dunia internasional (global). Hal ini didasarkan jika terdapat peningkatan informasi pasar atau meningkatnya cakupan pasar (geografis, time, volume dan lainnya). Selain itu revolusi pemasaran beras dalam globalisasi agribisnis juga lebih mengacu kepada keinginan dibandingkan dengan kebutuhan. Hal ini ditunjukan dengan lebih selektifnya konsumen dalam memilih beras, karena disebabkan oleh pendapatan yang meningkat atau lainnya. Selanjutnya adalah perubahan yang signifikan dari dalam hal persaingan. Seperti yang kita ketahui dulu sebelum terjadi revolusi pemasaran persaingan bisa dalam bentuk persaingan harga, tapi sejalan dengan perkembangan zaman persaingan lebih mengacukepada persaingan non harga. Hal ini dicirikan bahwa penjual meningatkan penggunaan merek (brand image) dengan melandaskan asas monopolistic competition.

Perlu kita ketahui bahwa karakteristik globalisasi agribisnis beras di Indonesia mengubahseller’s market menjadi consumer’s market dengan kekuasaan pasar ditentukan oleh konsumen akhir dan/ataumemiliki kemampuan untuk mengungkapkan dan memenuhi preferensi konsumen. Ciri lain adalah pergeseran preferensi konsumen dariatribut tampilan luar ke atribut kunci fisika kimia. Seperti hal nya sekarang, keinginan konsumen akan komoditi beras organik lebih meningkat dari tahun-tahun sebelumnya, hal ini dikarenakan kebutuhan akan nutrisi-nutrisi yang terkandung dalam beras tersebut. Selanjutnya adalah kesadaran akan kebutuhan keamanan yang terus meningkat, adanya kampanyekonsumen yang peduli lingkungan, perhatin akan keaslian produk, kewaspadaan terhadap tindakan terorisme, tuntutan terhadap perdagangan yang adil dan liberalisasi investasi dan perdagangan, mendorong berkembangnya lembaga distribusi dan perdagangan eceran multi nasional secara global.

 PENUTUP

 

4.1          Kesimpulan

Rendahnya pendapatan petani disebabkan oleh beberapa kebiasaan yang tidak tepat, khususnya dalam penyimpangan padi. Sebagian petani ada yang langsung menjual seluruh hasil panennya dan membeli dalam bentuk beras atau menyimpan sebagian, sedangkan sebagian lain dijual atau dikonsumsi sendiri seluruhnya.

Faktor-faktor yang kemungkinan berpengaruh dalam perkembangan sistem pemasaran beras yang lebih kompleks meliputi meninkatnya komersialisasi produk, adopsi ilmu dan teknologi yang makin tinggi, meningkatnya spesialisasi perusahaan dan tenaga kerja, pemisahan secara geografis produksi dan konsumsi, meningktanya jumlah penduduk dan urbanisasi, perubahan kebiasaan makan dan daya beli, serta perubahan mobilitas konsumen, dan peran pemerintah.

Perbedaan yang mendasardalam sistem pemasarana antara negara maju danberkembang adalah dalam hal keberadaan sistem suplai dalam pertanian, upah tenaga kerja, tingkat pendapatan konsumen, tingkat urbanisasi, latar belakang budaya termsuk kebiasaan makan dan sebagainya.

4.2          Saran

Perilaku stok berhubungan dengan sistem tataniaga. Secara umum seharusnya pemasaran beras di Indonesia meliputi petani, komisioner (broker/calo), tengkulak, pengumpul, luar daerah, penggilingan, pedagang grosir luar daerah (pedagang antar pulau), pedagang grosir, pedagang ritel, subdrive Perum Bulog dan perusahaan benih hal ini dimaksudkan agar menimbulkan saluran tataniaga, struktur pasar, perilaku pasar dan keragaan pasar yang berbeda-beda.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Agusman, 1991. Upaya Meningkatkan Pendapatan Petani Melalui Identifikasi saluran Pemasaran Gabah dan Beras. Majalah Pangan, No. 10 Vol III, Oktober Bulog. Jakarta.

Anjar K, 2009Mata Rantai Pemasaran Beras. Tabloid SINAR TANINo. 3430.

Sudi M, Yana S, Nur KA, 2005. Dinamika Pola Pemasaran Gabah dan Beras di Indonesia.Makalah pad Forum penelitian Agro Ekonomi di Bogor, 2 desember 2005. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Bogor.

 
Leave a comment

Posted by on September 29, 2013 in Analitical

 

Tags: , , ,

Permodalan Koperasi

2.1         Pokok Pembahasan

1)      Banyak orang berpendapat bahwa penyebab kurang berhasilnya koperasi di Indonesia karena kurangnya modal. Bagaimana menurut pendapat kolompok anda, apakah hal tersebut benar? Apakah koperasi yang memiliki modal terbatas pasti tidak dapat berkembang, mengingat bahwa anggota koperasi terutama adalah golongan ekonomi lemah? Barikan alasan!

2)      Modal dalam koperasi terdiri dari simpanan pokok, simpanan wajib dan simpanan sukarela. Potensi modal yang sangat potensial dikembangkan adalah simpanan sukarela, namun kenyataannya simpanan sukarela ini adalah relatif sedikit. Hal tersebut dikarenakan adanya prinsip koperasi yang membatasi bunga atas modal, sehingga anggota cenderung menanamkan simpanannya di lembaga non koperasi yang menawarkan keuntungan lebih tingi. Bagaimana mekanisme yang perlu dikembangkan oleh koperasi agar simpanan sukarela ini dapat digali secara lebih optimal?

3)      Diskusikanlah menurut kelompok anda serta berdasarkan literatur dan atau kunjungan ke koperasi, upaya-upaya yang dapat dilakukan koperasi untuk meningkatkan permodalan dari dalam atau modal sendiri!

2.2         Hasil Pembahasan

1)        Kelompok kami kurang sependapat dengan pernyataan tersebut karena, pada kenyataannya kebanyakan koperasi kurang berhasil disebabkan oleh para oknum anggota koperasi yang tidak menjalankan prinsip-prinsip koperasi, sehingga maksud dan tujuan koperasi sebagai bentuk dari badan usaha tidak terlaksana. Walaupun koperasi memiliki modal yang terbatas dalam melakukan aktivitas produskinya, koperasi masih dapat berkembang, karena dalam koperasi menerapkan berbagai bentuk simpanan, selain daripada simpanan wajib, pokok dan sukarela, tetapi koperasi juga memiliki sumber dana pemberian atau biasa yang disebut dana hibah. Hibah ini tidak hanya berupa uang tetapi dapat berupa asset lain seperti alat dan mesin, bangunan, kendaraan ataupun lahan. Adapun jika suatu koperasi tidak memiliki dana hibah, suatu koperasi harus memiliki dana cadangan, dimana dana tersebut berasala dari SHU yang tidak dibagikan semuanya, SHU tersebut disimpan demi keperluan darurat atau mungkin ketika koperasi mengalami kerugian dana cadangan tersebut dapat menutupinya. Akan tetapi jika dana-dana yang telah terkumpul dan tidak menutupi kerugian, dana tersebut dapat digunakan kembali sebagai modal untuk unit usaha lain dalam koperasi.

Akan tetapi salah satu penyebab kurangnya modal didalam koparasi ini, biasanya disebabkan oleh :

  1. Kesadaran masyarakat untuk menjadi anggota koperasi yang diakibatkan oleh kurangnya sosialisasi koperasi.
  2. Kesadaran anggota koperasi untuk melakukan simpanan sukarela di koperasi dikarenakan oleh keuntungan yang lebih kecil dibanding menabung di bank.
  3. Ketidakprofesionalan manajemen koperasi yang anggota dan pengurusnya memiliki tingkat pendidikan rendah. Banyak koperasi sejenis ini yang mengalami kebangkrutan baik dari sistem kelola usahanya, dari segi SDM, maupun dari segi finansial. Selain itu, dana bantuan yang mengucur dari pemerintah juga dimanfaatkan oleh pihak pengurus yang tidak bertanggung jawab untuk kegiatan korupsi.

Padahal, pada teorinya, sangat banyak jalan bagi koperasi untuk mendapatkan modal seperti dari hibah, hutang, cadangan, peningkatan simpanan sukarela, menjual tanah atau bangunan, menyewa alat-alat, andil, dan lain sebagainya.Jadi, apabila modal dalam koperasi terbatas, kemajuan dalam koperasi sudah tentu akan terhambat.

2)        Mekanisme yang perlu dikembangkan oleh koperasi agar simpanan sukarela ini dapat digali secara lebih optimal adalah dengan memotong SHU yang diterima oleh masing-masing anggota sesuai persentase yang telah ditetapkan dirapat dalam Rapat Anggota. Potongan tersebut digunakan kembali untuk modal dalam melakukan produktivitas koperasi tersebut. Selain itu, menurut kelompok kami adalah dengan menerapkan bunga pada setiap modal yang disimpan sehingga anggota koperasi lebih tertarik untuk menyimpan uangnya di koperasi ketimbang lembaga-lembaga non koperasi lainnya. Adapun bunga itu nantinya dihasilkan dari SHU yang tersedia akan tetapi tidak dibagikan (dana cadangan). Besarnya bunga ditentukan oleh rapat anggota, dengan pertimbangan tidak merugikan koperasi nantinya.

3)        Upaya yang dapat dilakukan koperasi untuk meningkatkan permodalan dari dalam atau modal sendiri adalah koperasi harus bekerja sesuai dengan prinsip ekonomi yang rasional, yaitu efektif, efisien, dan produktif serta berpegang pada prinsif-prinsif koperasi dan ciri khasnya (self help). Permodalan dari dalam koperasi menunjukan sumber-sumber modal yang berasal dari kekuatan koperasi dalam membentuk modal, yaitu dari hasil kegiatan usaha yang telah dijalankannya. Semakin berhasil koperasi memperoleh laba yang besar, maka koperasi akan dapat membentuk modal yang besar pula. Sebaliknya, apabila dari kegiatan usaha yang dijalankan tidak memperoleh laba, maka pembentukan modal pun menjadi terhambat. Upaya yang lain adalah dengan memanfaatkan dana cadangan yang diperoleh dari alokasi dengan persentase tertentu yang disepakati untuk pembagianSHU tahun berjalan. Semakin besar persentase SHU yang diperuntukan bagi cadangan, berarti semakin besar modal yang dibentuk.

Upaya lain yang dapat dilakukan adalah dengan menghapus sementara dana penyusutan atau penghapusan aktiva tetap. Akumulasi dana penyusutan aktiva tetap yang belum dipergunakan untuk membeli aktiva yang akan digantikan, untuk sementara dapat digunakan koperasi sebagai modal usaha. Sampai saatnya akan digunakan untuk membeli aktiva yang akan diganti, maka dana yang digunkan tadi harus dikembalikan pada peruntukannya yaitu untuk membeli aktiva yang baru.

 
Leave a comment

Posted by on September 25, 2013 in Analitical

 

Tags: ,

Ruang Lingkup Manajemen Produksi PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk

1.1         Keragaan PT. Indofood CBP Sukses Makmur

1.1.1   Sejarah Berdirinya PT. Indofood Makmur

Perusahaan ini didirikan dengan nama PT Panganjaya Intikusuma berdasarkan Akta Pendirian No.228 tanggal 14 Agustus 1990 yang diubah dengan Akta No.249 tanggal 15 November 1990 dan yang diubah kembali dengan Akta No.171 tanggal 20 Juni 1991, semuanya dibuat dihadapan Benny Kristanto, SH., Notaris di Jakarta dan telah mendapat persetujuan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No.C2-2915.HT.01.01Th.91 tanggal 12 Juli 1991, serta telah didaftarkan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dibawah No.579, 580 dan 581 tanggal 5 Agustus 1991, dan diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No.12 tanggal 11 Februari 1992, Tambahan No.611. Perseroan mengubah namanya yang semula PT Panganjaya Intikusuma menjadi PT Indofood Sukses Makmur, berdasarkan keputusan Rapat Umum Luar Biasa Para Pemegang Saham yang dituangkan dakam Akta Risalah Rapat No.51 tanggal 5 Februari 1994 yang dibuat oleh Benny Kristianto, SH., Notaris di Jakarta.

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. merupakan salah satu perusahaan mie instant dan makanan olahan terkemuka di Indonesia yang menjadi salah satu cabang perusahaan yang dimiliki oleh Salim Group.

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. Cabang Bandung didirikan pada bulan Mei 1992 dengan nama PT Karya Pangan Inti Sejati yang merupakan salah satu cabang dari PT Sanmaru Food Manufcturing Company Ltd. yang berpusat di Jakarta dan mulai beroperasi pada bulan Oktober 1992. Pada saat itu jumlah karyawan yang ada sebanyak 200 orang

Pada tahun 1994, terjadi penggabungan beberapa anak perusahaan yang berada di lingkup Indofood Group, sehingga mengubah namanya menjadi PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. yang khusus bergerak dalam bidang pengolahan mie instan. Divisi mie instan merupakan divisi terbesar di Indofood dan pabriknya tersebar di 15 kota, diantaranya Medan, Pekanbaru, Palembang, Tangerang, Lampung, Pontianak, Manado, Semarang, Surabaya, Banjarmasin, Makasar, Cibitung, Jakarta, Bandung dan Jambi, sedangkan cabang tanpa pabrik yaitu Solo, Bali dan Kendari. Hal ini bertujuan agar produk yang dihasilkan cukup didistribusikan ke wilayah sekitar kota dimana pabrik berada, sehingga produk dapat diterima oleh konsumen dalam keadaan segar serta membantu program pemerintah melalui pemerataan tenaga kerja lokal.

 

1.1.2   Struktur Organisasi

 struktur

 Gambar 1 Struktur Organisasi PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk

 

1.1.3   Job Description

Pembagian tugas dan tanggung jawab dari masing-masing bagian dalam struktur organisasi sesuai dengan fungsinya yaitu sebagai berikut:

1)            Manajer Umum (General Manager)

Manejer utama mempunyai wewenang tertinggi perusahaan yang bertanggung jawab atas berlangsungnya segala kegiatan perusahaan meliputi memimpin mengatur, membimbing dan mengarahkan organisasi perusahaan, dimana kegiatan tersebut untuk mencapai prestasi yang tinggi dalam menghasilkan produk-produk berkualitas dengan jaminan sistem mutu yang selalu terjaga dan dilaksanakan secara konsisten.

2)            Manajer Pabrik (Factory Manager)

Manajer pabrik bertugas dan bertanggung jawab dalam mengatur dan mengawasi kegiatan yang berhubungan dengan produksi dan mengambil tindakan untuk kelancaran jalannya proses produksi. Selain itu manajer pabrik memiliki tugas dan tanggung jawab: (1) Merencanakan, mengkoordinasi, mengarahkan dan mengendalikan kegiatan manufacturing yang meliputi PPIC, produksi, teknik purchasing dan gudang untuk memperlancar proses pencapaian sasaran perusahaan baik jangka pendek maupun jangka panjang. (2) meningkatkan usaha dalam bidang peningkatan mutu produk, produktifitas kerja dan pengendalian biaya operasional secara kontinu. (3) Mengatur dan mengendalikan proses manufacturing sesuai dengan standar yang ditentukan.

  • Supervisor Produksi (Production Supervisor)

Supervisor produksi bertugas menyempurnakan organisasi, prosedur dan sistem kerja guna pencapaian dalam semua aspek. Menyediakan kebutuhan sarana dan fasilitas kerja sesuai dengan persyaratan.

  • Manajer Teknik (Manager Technical)

Bertugas merencanakan, mengkoordinasi dan mengendalikan kegiatan teknik sehingga dapat menjamin kelancaran operasional mesin produksi dan sarana penunjang. Membuat perencanaan kerja yang diselaraskan dengan tujuan manajemen khususnya dalam kegiatan yang menyangkut teknik. Menjaga pelaksanaan perawatan dan perbaikan mesin.

  • Manajer Gudang (Warehouse Manager)

Manajer gudang bertugas merencanakan dan mengendalikan kegiatan pergudangan, sehingga tercapai tujuan utamanya, diantaranya keamanan, keakurasian jumlah dan kebutuhan barang yang dikelola, dengan melaksanakan sistem dan prosedur yang telah ditetapkan manajemen. Menerapkan prosedur kerja, termasuk syarat-syarat, keselamatan dan kesehatan kerja (K3) untuk menjaga dan memelihara semua aset perusahaan berupa aset tetap atau aset tidak tetap. Menjaga kelancaran dan pelaksanaan semua kegiatan arus transaksi barang melalui penentuan tata letak gudang serta penunjang tenaga pelaksana, agar tercapai pemanfaatan fasilitas dan optimalisasi tenaga kerja.

  • Supervisor PPIC

Supervisor ini bertugas merencanakan jadwal produksi dan mengendalikan pengadaan bahan baku (Raw Material)/RM dan barang jadi (Finish Good)/FG. Merencanakan kedatangan RM untuk menunjang kelancaran proses produksi sesuai jadwal yang telah dibuat. Membuat jadwal produksi berdasarkan Confirmed Weekly Order (CWO) yang diterima. Memantau tingkat persediaan dari gudang RM maupun FG sehingga standard dan persediaan penyangga tetap terjaga.

3)             Manajer Pengembangan dan Pengawasan Mutu Produk (Branch Process Development and Quality Manager)

Manajer PDQC bertugas dan bertanggung jawab dalam memeriksa bahan baku, bahan tambahan, produk jadi, dan bahan pengemas. Mengawasi analisa kualitas produksi, bertanggung jawab atas kelengkapan laboratorium untuk analisa dan pengembangan produk. Selain itu BPDQC bertugas dan bertanggung jawab: (1) Mengendalikan semua kegiatan departemen PDQC dalam aspek proses pengendalian mutu untuk menjamin kelangsungan aktifitas perusahaan. (2) Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan GLP dan Kalibrasi di laboratorium serta GNP dan HACCP diproses produksi. (3) Mengendalikan semua kegiatan pengendalian mutu pada proses awal pengawasan mutu dan hasil pengawasan serta pengembangan produk. (4) Mengatur dan merencanakan kerja, kebutuhan kerja tenaga kerja, alat bantu dan fasilitas kerja selama masih dalam batas-batas standar baku yang diselaraskan dengan rencana manajemen. (5) Menilai/mengevaluasi kerja staff departemen PDQC.

  1. Supervisor Pengawasan Mutu Proses (Quality Control Process Spv)

Supervisor pengawasan mutu proses bertugas membantu BPDQC dalam hal sistem pengendalian mutu proses produksi. Memantau & mengendalikan kualitas proses produksi dan produk jadi, sesuai standar mutu yang ditetapkan. Memantau pekerjaan QC Process Spv & bagian administrasi. Melakuaka perbaikan mutu dan cost peralatan untuk kebutuhan analisis.

  1. Supervisor Pengawasan Mutu Bahan Baku/Produk Jadi (Quality control Raw Material/Finished Good Spv)

Supervisor pengawasan mutu bahan baku/produk jadi bertugas membantu BPDQC dalam hal pengendalian mutu RM & FG serta pengembangan proses produksi. Melakukan pengawasan secara langsung terhadap proses Incoming Quality Control (IQC), Outgoing Quality Control (OQC) yang meliputi koordinasi QC Field RM & FG serta pelaksanaan penerbitan hasil analisa IQC dan OQC sehingga aktivitas kerja bisa berjalan lancar. Melakukan koordinasi tugas IQ RM & FG, OQC RM & FG serta mengembangkan proses. Menjaga kelancaran tugas penerimaan RM/FG dan OQC RM/FG. Mengawasi pelaksaan GMP HACCP dan SOP pada pergudangan. Mewakili BPDQC jika tidak ada. Memantau, mengevaluasi standar mutu yang telah ditetapkan.

4)            Manajer Keuangan (Finance and Accounting Manager)

Manajer keuangan bertugas dan bertanggung jawab merencanakan, menyiapkan budget dan planning (AOP) untuk menentukan tujuan yang harus dicapai. Memonitor kegiatan operasional dalam hal aspek financial supaya sejalan dengan AOP. Menandatangani bank instrument (Cek, transfer bank) sesuai dengan batasan yang ditetapkan perusahaan. Verifikasi setiaap pengeluaran biaya ataupun pembelian aset dan penggunaan dana lainnya sesuai dengan batasan yang ditetapkan oleh perusahaan. Menetapkan pelasanaan sistem dan prosedur yang berkaitan dengan keuangan.

5)                 Manajer Personalia (Branch Personnerl Manager)

Manajer personalia memiliki fungsi merencanakan, mengkordinir, mengarahkan dan mengendalikan kegiatan kepersonaliaan yang meliputi hubungan industrial, administrasi kepegawaian, keamanan, kehumasan, dan pelayanan umum untuk mendukung proses pencapain tujuan perusahaan baik jangka pendek maupun jangka panjang. Selain itu manajer personalia memiliki tugas dan tanggung jawab menciptakan hubungan industrial yang harmonis untuk mencapai ketenangan industrial (ketenangan kerja dan ketenangan usaha) dilingkungan perusahaan. Menyelenggarakan syarat-syarat dan kondisi kerja dalam rangka mewujudkan hak dan kewajiban karyawan dan administrasi kepegawaian secara tepat sebagai syarat untuk meningktkan produktifitas kerja yang optimal. Memberikan dukungan dan pelayanan kepada seluruh pihak agar dapat mencapai standar kerja secara optimal. Membuat analisa pengembangan organisasi secara berkala dan secara aktif ikut mendukung kegiatan-kegiatan pengembangan mutu/Total Quality Management (TQM). Turut serta melaksanakan program HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point).

6)            Manajer Pemasaran (Areaa Sales and Promotion Manager)

Manajer pemasaran memiliki tugas dan tanggung jawab dalam mengkoordinir distribusi produk ke daerah pemasaran, melakukan tugas penjualan dan permintaan produk, menyiapkan rencana penjualan dan permintaan produk, merencanakan dan membuat rancangan promosi, serta membuat rencana penjualan dan permintaan produk.

7)            Purcashing Office

Purchasing memiliki tugas dan wewenang dalam menetapkan dan memelihara prosedur pembelian untuk mengendalikan aktifitas pembelian, mengesahkan dokumen pembelian sebelum dokumen dikirim ke pemasok dan memilih serta mengevaluasi pemasok yang telah ditetapkan.

1.1.4   Tujuan Pendirian

Tujuan didirikannya PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. Bandung adalah (1) memperluas bidang usaha secara terus menerus melalui bidang usaha internal maupun pengembangan usaha strategis; (2) mengurangi biaya transportasi; (3) selalu meningkatkan kesejahteraan karyawan; (4) mensuplai daerah lain yang selalu kekurangan persediaan barang; dan (5) berperan serta dalam pelestarian lingkungan hidup dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Visi dan misi yang ditunjukan oleh PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. adalah realistik, spesifik, dan meyakinkan yang merupakan penggambaran citra, nilai, arah dan tujuan untuk masa depan perusahaan.

Visi        : “Menjadi perusahaan yang dapat memenuhi kebutuhan pangan dengan produk bermutu, berkualitas, aman untuk dikonsumsi dan menjadi pemimpin di industri makanan”.

Misi       : “Menjadi perusahaan transnasional yang dapat membawa nama Indonesia di bidang industri makanan”.

1.1.5   Usaha Awal

Pada awalnya, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. adalah perusahaan yang bergerak dibidang pengolahan makanan dan minuman yang didirikan pada tahun 1971. Perusahaan ini mencanangkan suatu komitmen untuk menghasilkan produk makanan bermutu, aman, dan halal untuk dikonsumsi. Aspek kesegaran, higienis, kandungan gizi, rasa, praktis, aman, dan halal untuk dikonsumsi senantiasa menjadi prioritas perusahaan ini untuk menjamin mutu produk yang selalu prima.

Akhir tahun 1980, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. mulai bergerak di pasar Internasional dengan mengekspor mi instan ke beberapa negara ASEAN, Timur Tengah, Hongkong, Taiwan, China, Belanda, Inggris, Jerman, Australia, dan negara-negara di Afrika.

1.1.6   Sumber Daya Manusia Perusahaan

Pada saat ini Divisi Noodle, PT ISM memiliki lebih dari 1500 karyawan yaitu sekitar 70% merupakan pegawai pabrik dan 30% adalah staaf manajemen. Tingkat pendidikan yang dimiliki oleh karyawan bervariasi mulai dari SD sampai dengan Strata Satu.

Dalam rangka memperbaiki atau meningkatkan komitmen perusahaan terhadap kepercayaan pelanggan, maka perusahaan berusaha untuk meningkatkan mutu dan inovasi tenaga kerja adalah melalui pelatihan. Pelatihan yang dilakukan perusahaan terdiri dari tiga kategori, yaitu pelatihan dasar, pelatihan teknis fungsional, dan pelatihan manajerial.

Dalam penerimaan pegawai, Divisi Noodle, PT. ISM, Tbk menerapkan dua sistem. Pertama adalah sistem internal, apabila perusahaan membutuhkan suatu jabatan tertentu, maka akan ditinjau dulu pegawai yang telah ada dan berpotensi untuk promosi jabatan. Kedua adalah sistem eksternal, dimana HRD akan merekrut SDM dari luar yang bermutu dengan spesifikasi pekerjaan yang dibutuhkan melalui kantor Departemen Tenaga Kerja, iklan, Biro Konsultasi, atau dengan pemasangan pengumuman di lingkungan perusahaan.

1.1.7   Perkembangan Perusahaan

Perusahaan ini didirikan dengan nama PT Panganjaya Intikusuma berdasarkan Akta Pendirian No.228 tanggal 14 Agustus 1990. berdasarkan keputusan Rapat Umum Luar Biasa Para Pemegang Saham yang dituangkan dakam Akta Risalah Rapat No.51 tanggal 5 Februari 1994 Perseroan mengubah namanya yang semula PT Panganjaya Intikusuma menjadi PT Indofood Sukses Makmur. Pada awalnya, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. adalah perusahaan yang bergerak dibidang pengolahan makanan dan minuman yang didirikan pada tahun 1971.

PT. Indofood Sukses Makmur terus mengalami kemajuan. Hal ini dibuktikan dengan adanya pesebaran distribusi produk  yang dipasarkan. Saat ini, PT. memliki 36 pabrik, lebih dari  10 merek dengan 150 rasa dan tipe distributor yang melayani hampir 150.000 outlet.

PT. Indofood Sukses Makmur cabang Bandung merupakan salah satu bagian dari noodle division, PT. Indofood Sukses Makmur memiliki areal kantor dan pabrik seluas 61.640 m². Cabang Bandung daerah cakupan pemasaran di kabupaten dan kota Bandung, Cimahi, Cikampek, Purwakarta, Subang, Cirebon, Tasikmalaya, Garut, Sukabumi, Cianjur, Indramayu, dan Sumedang.

PT. Indofood Sukses Makmur TBK cabang Indofood Grup yang bergerak dibidang mie instan merupakan pelopor dalam industri makanan olahan di Indonesia. Saat ini perusahaan menjadi perusahaan pengolahan mie terdepan dan memegang market leader pada masing-masing brand yang dimilikinya.

1.2         Bahan Baku (Input) PT. Indofood CBP Sukses Makmur

1.2.1   Bahan Baku Utama

Divisi Noodle, PT ISM, Tbk menggunakan beberapa bahan baku dalam pembuatan mie instan. Bahan baku yang digunakan didatangkan dari beberapa perusahaan yang telah memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Adapun bahan baku tersebut adalah :

  • Tepung Terigu

Tepung terigu diperoleh dari biji gandum yang digiling. Fungsi tepung terigu dalam pembuatan mie instan, antara lain memberi atau membentuk adonan selama proses pencampuran, menarik atau mengikat bahan lain dan mendistribusikan secara merata, mengikat gas selama proses penggorengan, membentuk struktur mie instan, serta sebagai sumber karbohidrat dan protein.

Divisi Noodle, PT ISM, Tbk menggunakan tiga jenis tepung terigu sebagai bahan baku utama, yaitu strong flour (tepung keras cap Cakra Kembar), medium flour (tepung setengah keras cap Segitiga Biru) dan soft flour (tepung lunak cap Segitiga Hijau). Ketiga jenis tepung tersebut bukan dianggap kelas-kelas mutu tepung, tetapi mempunyai klasifikasi khusus sehingga akan disesuaikan untuk tujuan penggunaan berbeda. Ketiga jenis tepung tersebut sudah mengandung telur sehingga mempunyai kadar protein tertentu. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan penanganan dalam proses pembuatan mie instan. Adapun standar bahan baku tepung terigu dapat terlihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Standar Bahan Baku Tepung Terigu

No.

Jenis Tepung

pH

Kadar Air (%)

Gluten (%)

Protein (%)

1.

Cakra Kembar

5,5-6,8

14,5 (max)

31 (min)

13

2.

Segitiga Biru

5,5-6,8

14 (max)

25 (min)

10,5-11,5

3.

Segitiga Hijau

5,5-6,8

14 (max)

21 (min)

9

Tepung terigu cap Cakra Kembar adalah terigu yang bermutu paling baik untuk pembuatan roti dan mie karena memiliki kandungan protein yang paling tinggi, yaitu sebesar 13 % yang dihasilkan dari 100% hard wheat.

  • Tepung Tapioka

Tepung tapioka digunakan untuk membentuk tekstur mie menjadi lebih keras, sehingga adonan mudah dibentuk sesuai dengan yang diinginkan. Tepung tapioka yang baik digunakan untuk pembuatan mie instan adalah  memiliki pH 4-8 dan kadar pati 80%. Tepung tapioka ini diperoleh dari perusahaan Darma Grindo, Lampung. Tepung tapioka ini dikemas dalam karung dengan berat per karung 50 kg.

2.2.2        Bahan Baku Penunjang

  • Air

Air digunakan untuk membentuk tekstur adonan dan gluten, mengkontrol kepadatan dan suhu adonan, melarutkan garam dan bahan-bahan tambahan lainnya, sehingga bahan-bahan tersebut dapat tersebar secara merata dalam adonan. Air yang digunakan harus air bersih, baik secara kimiawi maupun mikro biologis dan berasal dari Perusahaan Air Minum (PAM).

  • Alkali

Alkali merupakan campuran dari zat antioksidan, pengemulsi, pengatur keasaman, pengental, pengembang, pewarna, mineral dan penguat rasa yang aman untuk dikonsumsi dan berfungsi untuk membuat bentuk, warna, rasa dan mutu mie instan lebih baik.

Identifikasi kebutuhan bahan baku adalah penentuan jumlah bahan baku yang diperlukan untuk produksi mendatang. Identifikasi tersebut dilakukan berdasarkan perkiraan penjualan produk mie instan yang dihasilkan perusahaan dan pemakaian bahan baku pada periode sebelumnya.

2.2.3        Pemasok Bahan Baku

PT. Indofood Sukses Makmur TBK Bandung bekerja sama dengan beberapa pemasok (supplier) yang ditunjuk untuk pengadaan bahan baku (raw material) dan bahan pendukung lainnya. Adapun supplier-supplier yang ditunjuk untuk pengadaan bahan baku dan bahan pendukung produksi mie instan dapat dilihat dibawah ini.

Tabel 2 Supplier Raw Material

No

Material

Supplier

Lokasi

1

Tepung terigu Bogasari Flour Mills

Jakarta

2

Minyak goreng Salim Ivomas

Jakarta

3

Bumbu PT. Food Ingredient Development

Cikampek

4

Karton Packing Raci Pack

Jakarta

Puri Nusa

Bandung

5

Etiket Supermova

Jakarta

Prima Makmur

Jakarta

Respati

Jakarta

Cipta Kemas Abadi

Jakarta

Sistem pembelian dan penerimaan bahan baku pada Divisi Noodle, PT ISM, Tbk melibatkan beberapa pihak yang saling berkepentingan menurut fungsinya dalam perusahaan, yaitu Departemen ASP, PPIC, Purchasing (Pembelian), Ware House (Gudang), PDQC dan Finance and Accounting. Ke enam bagian ini memegang peranan penting dalam pengadaan bahan baku baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga produksi dapat berlangsung karena ketersediaan bahan baku tersebut.

2.2.4   Sistem Persediaan Bahan Baku

Penyimpanan bahan baku berada pada wewenang Departemen Warehouse (Gudang). Dalam manajemen gudang bahan baku Divisi Noodle , PT. ISM, Tbk terdapat penanganan bahan baku, yaitu :

  • Penerimaan

Sebelum masuk gudang, bagian penerimaan barang digudang akan mengontrol jumlah yang diterima berdasarkan pesanan (Purcashe Order) dan selanjutnya Departemen Quality Control akan mengambil contoh untuk memeriksa mutu yang telah ditetapkan. Perhitungan jumlah bahan baku tepung terigu dan tepung tapioka akan disesuaikan dengan standar yang telah ditetapkan oleh Divisi Noodle, PT ISM, Tbk. Tepung tapioka mempunyai berat 50 kg per zak, dan perusahaan telah memperhitungkan rendemen, sehingga berat per zak 49,85 kg. Sedangkan untuk tepung terigu, berat per zaknya 25 kg dan perusahaan juga telah memperhitungkan rendemennya sehingga berat per zak 24,55-24,85 kg.

  • Penyusunan

Kegiatan pengeluaran bahan baku untuk jenis tepung dilakukan dengan cara diangkat oleh kuli angkut. Setelah bahan baku diturunkan dari truk atau kontainer, bahan baku terlebih dahulu ditumpuk secara bersilang agar saling mengunci antar satu lapisan dengan lapisan lainnya di atas palet, sehingga bahan baku tidak terkontak langsung dengan lantai. Tinggi tumpukan maksimal tepung adalah 10 zak per palet.

  • Pengeluaran

Bahan baku yang dikeluarkan mengikuti sistem First In First Out (FIFO) yaitu bahan baku yang pertama masuk ke gudang dikeluarkan lebih dahulu dari gudang untuk proses produksi. Hal ini berkaitan dengan sifat bahan baku yang mempunyai batas kadaluarsa dan kerugian akibat penyimpanan yang terlalu lama. Bahan baku tepung terigu mempunyai batas penyimpanan di gudang bahan baku, yaitu satu bulan. Pada cuaca panas, penyimpanan melebihi satu bulan akan menimbulkan kutu pada tepung terigu.

2.3        Proses Produksi yang Terjadi di PT. ISM

Proses pembuatan mie instan terdiri dari delapan tahap, yaitu mixing (pencampuran), pressing (pengepresan), slitting (pembentukan untaian), steaming (pengukusan), cutting and folder (pemotongan dan pencetakan), frying (penggorengan), cooling (pendinginan) dan packing (pengemasan). Proses yang terjadi pada setiap tahap adalah :

  • Mixing atau Pencampuran

Proses mixing adalah proses pencampuran dan pengadukan material-material yang terdiri dari material tepung dan air alkali (campuran antara air dan beberapa ingredient yang ditentukan) sehingga diperoleh adonan yang merata atau homogen. Mutu adonan yang baik adalah yang tidak lembek dan tidak perau atau dengan kata lain memiliki kadar air sebesar 32% sampai dengan 34%. Proses pencampuran ini berlangsung kurang lebih selama 15 menit dengan suhu 35oC.

  • Pressing atau Pengepresan

Selain adonan menjadi homogen, campuran tersebut masuk ke dalam mesin pengepres adonan. Di dalam mesin pengepres, adonan melalui beberapa roll press. Adonan akan mengalami peregangan pada saat dipress dan terjadi relaksasi pada saat keluar dari roll press. Hal ini terjadi beberapa kali pada saat melalui roll press sehingga terbentuk lembaran yang lembut, homogen, elastik, dan tidak terputus dengan ketebalan tertentu. Tebal lembaran yang dihasilkan bergantung dengan jenis mesin yang digunakan. Rataan tebal lembaran yang dihasilkan adalah 1,12 – 1,18 mm.

  • Slitting atau Pembentukan Untaian

Suatu proses pemotongan lembaran adonan menjadi untaian mie dan kemudian siap dibentuk gelombang mie. Selanjutnya untaian mie tersebut dilewatkan ke dalam suatu laluan berbentuk segi empat yang disebut waving net, sehingga terbentuk gelombang mie yang merata dan terbagi dalam beberapa jalur.

  •  Streaming atau Pengukusan

Proses selanjutnya adalah proses pegukusan untaian mie yang keluar dari slitter  secara kontinu dengan menggunakan istream box atau mesin yang memiliki tekanan upa yang cukup tinggi dengan suhu tertentu. Proses pengukusan akan berlangsung selama dua menit dengan suhu pemanasan ± 65oC. Tujuannya adalah memasak mie mentah menjadi mie dengan sifat fisik padat. Dalam proses streaming ini akan terjadi proses gelatinisasi pati dan koagulasi gluten, yang menyebabkan gelombang mie bersifat tetap dan memiliki tekstur lembut, lunak, elastis, dan terlindungi dari penyerapan minyak yang terlalu banyak pada proses penggorengan atau frying.

  • Cutting and Folder atau Pemotongan dan Pencetakan

Pemotongan dan pencetakan adalah suatu proses memotong lajur mie pada ukuran tertentu dan melipat menjadi dua bagian sama panjang, kemudian mendistribusikannya ke mangkok penggorengan. Mie dipotong dengan menggunakan alat berupa pisau yang berputar.

  • Frying atau Penggorengan

Proses penggorengan adalah suatu proses merapikan mie didalam mangkok pengorengan, kemudian merendamnya di dalam media penghantar panas. Dalam hal ini minyak olein atau minyak goreng pada suhu tertentu dalam waktu tertentu. Tujuan dari proses penggorengan adalah untuk mengurangi kadar air dalam mie dan pemantapan pati tergelatinisasi. Kadar air setelah penggorengan adalah 4% sehingga mie menjadi matang, kaku dan awet.

  • Cooling atau Pendinginan

Ruangan pendingin mie adalah ruangan atau lorong yang terdiri dari sejumlah kipas untuk menghembuskan udara segar ke mie-mie yang dilewatkan dalam ruangan tersebut. Tujuan proses pendinginan adalah untuk mendinginkan mie panas yang keluar dari proses penggorengan hingga diperoleh suhu ± 30°C sebelum dikemas dengan etiket. Dengan diperolehnya suhu mie yang rendah sebelum dikemas maka mie akan lebih awet untuk disimpan dalam etiket selama beberapa waktu dan menghindari penguapan air yang kemudian menempel pada permukaan bagian dalam etiket yang dapat menyebabkan timbulnya jamur. Lamanya proses pendinginan adalah kurang lebih dua menit.

Secara Sistematis alur proses produksi mie instan dapat dilihat pada Gambar 1.

alur  

Gambar 2 Diagram Alur Produksi Mie Instan

Sumber daya yang terlibat dalam proses produksi pembuatan mie instan ini tidak terlalu membutuhkan sumber daya manusia yang terlalu banyak karena pengerjaan produksi dilakukan oleh teknologi mesin sehingga SDM yang dibutuhkan pada proses produksi sebatas pengawas jalannya produksi.

Karakteristik perusahaan dalam melakukan kegiatan produksi yang dimiliki PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. yakni bersifat mass production, yaitu jenis barang yang diproduksi relatif sedikit tetapi dengan volume produksi yang besar, permintaan produk tetap/stabil demikian juga desain produk jarang sekali berubah bentuk dalam jangka waktu pendek atau menengah.

2.4         Output Produksi PT. Indofood CBP Sukses Makmur, Tbk

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. divisi noodle merupakan salah satu cabang perusahaan yang dimiliki Salim Group yang memproduksi mie instan. Jenis produk mie instant yang dihasilkan oleh PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. Bandung dapat dilihat pada Tabel 3 berikut ini:

Tabel 3 Produk yang Dihasilkan PT. Indofood CBP Sukses Makmur, Tbk

NO

PRODUK

JUMLAH VARIAN RASA

1 Indomie

8

2 Indomie Special

2

3 Indomie Vegan

2

4 Indomie Regional Flavor

11

5 Indomie Kriuk

3

6 Indomie Jumbo

2

7 Indomie SQN

6

8 Indomie Paket

4

9 Supermie Reguler

4

10 Supermie Sedaaap

3

11 Supermie Go Series

3

12 Sarimi

6

13 Sarimi Extra Besar

6

14 Sakura

6

15 Intermi

1

16 POP Mie

15

17 Mie Telor

2

18 Anak Mas

2

19 POP Bihun Spesial

4

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. memiliki orientasi pasar, dimana produksi yang dilakukan oleh perusahaan disesuaikan dengan permintaan pasar. Perusahaan selalu berusaha memenuhi kebutuhan konsumen, baik dalam kuantitas maupun kualitas produk. Oleh karena itu, perusahaan selalu mengembangkan inovasi guna memenuhi kepuasan pelanggan, khususnya selera konsumen.

Produk yang dihasilkan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. divisi mi instan terdiri dari 2 kelompok besar yaitu :

  1. Bag Noodle, yaitu mie instan dalam kemasan bungkus; dan
  2. Mie telor, yaitu mi yang dalam proses pembuatannya tidak digoreng melainkan dikeringkan.

Pengemasan mie adalah proses penyatuan dan pembungkusan mie, bumbu, minyak bumbu dan solid ingredient lainya dengan menggunakan etiket sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Tujuan dari proses pengemasan adalah untuk melindungi mie dari kemungkinan-kemungkinan tercemar atau rusak sehingga mie tidak mengalami penurunan mutu ketika sampai kepada konsumen. Setelah dikemas, selanjutnya mie tersebut akan dimasukkan ke dalam karton. Setelah mie dimasukkan ke dalam karton seluruhnya, karton akan direkatkan dan kemudian menuju gudang untuk disalurkan.

 
Leave a comment

Posted by on September 25, 2013 in Analitical

 

Tags: , , ,

Analisis Perkembangan Usaha Bell-Mart

Profil Bel-Mart

Bel-Mart merupakan minimarket yang menjual daging ayam segar maupun olahan. Bel-Mart yang terletak di daerah Bangbarung, Bogor ini dibuka pada bulan Desember 2010. Minimarket ini merupakan salah satu anak perusahaan dari PT Sierad Produce Tbk. PT Sierad tersebut merupakan perusahaan multinasional yang bergerak dibidang peternakan unggas.

Konsep yang ditawarkan Bel-Mart adalah jaminan penyediaan daging ayam segar berkualitas yang telah tersertifikasi. Hal tersebut didukung sepenuhnya oleh sistem produksi PT Sierad Produce Tbk, mulai dari pembibitan ayam, penggunaan pakan ternak yang berkualitas, hingga sistem pemotongan ayam dengan kualitas baik sesuai standar nasional dan internasional. Seluruh proses pemilihan ayam bibit unggul hingga pemotongan ayam dengan kualitas terbaik dilakukan di rumah pemotongan ayam (RPA) milik PT Sierad Produce di Parung, Bogor. Pabrik seluas 2.148 m2 tersebut memiliki kapasitas pemotongan 8 ribu ekor ayam per jam.

Untuk mempertahankan kualitas produk yang dijual di Bel-Mart, perusahaan ini menerapkan cold chain supply, yaitu sejak dari RPA milik Sierad Produce, di dalam truk pengirim, hingga ke gerai Bel-Mart, produk selalu berada di dalam lemari pendingin dengan suhu di bawah 6 derajat Celsius. Hal itu dilakukan agar kualitas dan kesehatan ayam tidak rusak terkena bakteri. Bel-Mart juga telah mengantongi sertifikat halal dari MUI dan telah menerapkan ISO 9001:2000 sehingga telah terjamin mutu dan kualitasnya.

Daur Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle) Bell Mart

Siklus hidup produk adalah suatu konsep penting yang memberikan pemahaman tentang dinamika kompetitif suatu produk. Seperti halnya dengan manusia, suatu produk juga memiliki siklus atau daur hidup. Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle) ini yaitu suatu grafik yang menggambarkan riwayat produk sejak diperkenalkan ke pasar sampai dengan ditarik dari pasar . Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle) ini merupakan konsep yang penting dalam pemasaran karena memberikan pemahaman yang mendalam mengenai dinamika bersaing suatu produk. Konsep ini dipopulerkan oleh levitt (1978) yang kemudian penggunaannya dikembangkan dan diperluas oleh para ahli lainnya.

Ada berbagai pendapatan mengenai tahap – tahap yang ada dalam Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle) suatu produk. Ada yang menggolongkannya menjadi introduction, growth, maturity, decline dan termination. Sementara itu ada pula yang menyatakan bahwa keseluruhan tahap – tahap Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle) terdiri dari introduction (pioneering), rapid growth (market acceptance), slow growth (turbulance), maturity (saturation), dan decline (obsolescence). Meskipun demikian pada umumnya yang digunakan adalah penggolongan ke dalam empat tahap, yaitu introduction, growth, maturity dan decline.

Menurut Basu Swastha (1984:127-132), daur hidup produk itu di bagi menjadi empat tahap, yaitu :

Tahap perkenalan (introduction).

Pada tahap ini, barang mulai dipasarkan dalam jumlah yang besar walaupun volume penjualannya belum tinggi. Barang yang di jual umumnya barang baru (betul-betul baru) Karena masih berada pada tahap permulaan, biasanya ongkos yang dikeluarkan tinggi terutama biaya periklanan. Promosi yang dilakukan memang harus agfesif dan menitikberatkan pada merek penjual. Di samping itu distribusi barang tersebut masih terbatas dan laba yang diperoleh masih rendah.

Tahap pertumbuhan (growth).

Dalam tahap pertumbuhan ini, penjualan dan laba akan meningkat dengan cepat. Karena permintaan sudah sangat meningkat dan masyarakat sudah mengenal barang bersangkutan, maka usaha promosi yang dilakukan oleh perusahaan tidak seagresif tahap sebelumnya. Di sini pesaing sudah mulai memasuki pasar sehingga persaingan menjadi lebih ketat. Cara lain yang dapat dilakukan untuk memperluas dan meningkatkan distribusinya adalah dengan menurunkan harga jualnya.

Tahap kedewasaan (maturity)

Pada tahap kedewasaan ini kita dapat melihat bahwa penjualan masih meningkat dan pada tahap berikutnya tetap. Dalam tahap ini, laba produsen maupun laba pengecer mulai turun. Persaingan harga menjadi sangat tajam sehingga perusahaan perlu memperkenalkan produknya dengan model yang baru. Pada tahap kedewasaan ini, usaha periklanan biasanya mulai ditingkatkan lagi untuk menghadapi persaingan.

Tahap kemunduran (decline)

Hampir semua jenis barang yang dihasilkan oleh perusahaan selalu mengalami kekunoan atau keusangan dan harus di ganti dengan barang yang baru. Dalam tahap ini, barang baru harus sudah dipasarkan untuk menggantikan barang lama yang sudah kuno. Meskipun jumlah pesaing sudah berkurang tetapi pengawasan biaya menjadi sangat penting karena permintaan sudah jauh menurun.Apabila barang yang lama tidak segera ditinggalkan tanpa mengganti dengan barang baru, maka perusahaan hanya dapat beroperasi pada pasar tertentu yang sangat terbatas.

Dengan mengacu pada teori diatas, produk Bel-Mart terletak pada posisi pertumbuhan (growth), hal ini dikarenakan usaha ini telah menggunakan strategi untuk mempertahankan pertumbuhan pasar yang pesat. Bel-Mart telah menyadari betapa pentingnya kualitas produk, sehingga produk didisplay dalam etalase pendingin sehingga sifat parishable produk dapat diminimalisir. Bel-Mart menambah keistimewaan produknya dengan megeluarkan produk-produk baru seperti ayam berbumbu dan beras nasi liwet. Bel-Mart menambahkan model-model baru dan produk-produk penyerta yang bertujuan untuk melindungi dan melengkapi produk utama seperti contoh produk bumbu untuk memasak ayam.

Dalam perkembangannya, Bel-Mart beralih dari iklan yang membuat orang menyadari produk (product awareness advertising) ke iklan yang membuat orang memilih produk (product preference advertising). Saat ini, Bel-Mart mengeluarkan Loyalty Card, kartu tersebut bisa ditukarkan dengan merchandise yang tersedia di Bel-Mart seperti payung cantik, efron, Mug dan lain-lain. Loyalty Card didapatkan dari pembelian produk Bel-Mart minimal Rp 75.000,-.

Bel-Mart merupakan salah satu anak perusahaan dari Sierrad Produce, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang peternakan ayam broiler. Bel-Mart sendiri merupakan saluran distribusi dari PT. Sierrad Produce, sehingga pemasaran produk dilakukan oleh Bel-Mart sendiri.

Pengaruh Merek, Ide Awal, dan Kemasan Terhadap Perkambangan Produk

Merk (nama produk)

Bel-Mart adalah reteller dari PT Sierad Produce yang menjual produk olahan dan produk mentah yang berbahan dasar ayam. Untuk merk sendiri adalah Belfoods, dimana belfoods tersebut adalah nama perusahaan yang memproduksinya. Lalu Bel-Mart juga memiliki produk lainnya yang berasal dari supplier lain yang telah melalui kerja sama. Produk-produk tersebut diberi label logo Bel-Mart itu sendiri. Merk (nama produk) Bel-Mart sangat berpengaruh dalam penjualan produk. Produk tersebut memiliki nilai jual dimata konsumen sehingga meningkatkan penjualan. Konsumen juga memiliki kepercayaan terhadap produk tersebut karena telah terjamin mutu dan kualitasnya.

Ide produk

Ide produk tersebut berawal dari kebutuhan masyarakat yang belum terpenuhi terhadap daging ayam. Saat ini masyarakat cenderung lebih memilih produk yang praktis, higienis dan mudah diperoleh khususnya pada masyarakat menengah keatas. Bel-Mart berupaya untuk memenuhi kebutuhan konsumen tersebut dengan menjual produk daging ayam segar maupun olahan. Sedangkan untuk produk lain seperti beras, telur dsb, Bel-Mart menjalin kerja sama dengan supplier lain sebagai pelengkap dari produk utama. Selain itu, Bel-Mart juga merupakan pengembangan usaha dari PT Sierad Produce Tbk khususnya menjadi distributor produk Belfoods.

Kemasan

Bel-Mart memiliki beberapa produk. Setiap produk tersebut memiliki kemasan yang berbeda. Pada produk Belfoods, kemasannya ditentukan oleh PT Sierad Produce yang memproduksi Belfoods. Kemasannya dengan menggunakan plastik berlabel khusus. Sedangkan untuk produk yang berlabel Bel-mart seperti beras, telur dll, kemasannya bekerja sama dengan supplier lain. Kemasan produk disesuaikan dengan karakteristik produk tersebut. Produk yang berupa daging ayam segar dan olahan dikemas menggunakan wadah sterofoam dan di press dengan plastik bening.

Proses Perkembangan Bel-Mart

Tahapan perkembangan produk Bel-Mart :

Ide awal

Ide awal pendirian Bel-Mart diawali dari rutinitas kehidupan kota menuntut pola hidup yang serba cepat dan praktis. Termasuk dalam hal penyajian makanan. Bel Mart memenuhi kebutuhan daging ayam sebagai menu favorit setiap orang. Selain kandungan proteinnya yang tinggi dan berguna untuk kesehatan tubuh, berbagai variasi masakan dan hidangan pun bisa dikreasikan dari daging ayam. Bel Mart dipilih dari daging ayam segar berkualitas tinggi yang sangat berpengaruh dalam cita rasa kelezatan masakan. Selain itu, pendirian Bel-Mart didasarkan pada prinsip Modern Market yang menandakan pasar yang bersih dan hygiens sehingga kualitas daging tetap terjaga, juga mengubah paradigma masyarakat bahwa harga daging di modern market memiliki relatif lebih tinggi dibanding harga daging di Pasar Tradisional.

Syarat Pasar

Dalam memenuhi kepuasan pasar, pendirian Bel-Mart memilih lokasi yang dekat dengan customer. Biasanya pendirian Bel-Mart berdekatan dengan perumahan-perumahan. Daging yang didisplay berumur tidak lebih dari 24 jam, sehingga daging yang didisplay selalu segar tiap harinya. Bel-Mart selalu menjaga kebersihan didalam tokonya sehingga customer iselalu merasa nyaman, dan keramahtamahan staf Bel-Mart terhadap customer yang datang.

Spesifikasi Fungsional

Produk tersebut merupakan produk pangan yang memiliki sifat-sifat pertanian, diantaranya mudah busuk,sehingga dalam penyajian produk Bel-Mart tidak akan lebih dari 24 jam, dan produk yang lebih dari 24 jam tersebut dikembalikan ke pemasok, apabila diketahui kualitas daging menurun bahkan rusak maka daging tersebut dimusnahkan.

Spesifikasi Produk

Bel-Mart tersedia dalam bentuk daging ayam segar, daging ayam olahan, daging ayam yang telah dibumbui, daging ayam siap makan, serta berbagai macam menu bumbu sebagai penunjang penyajian. Tersedia juga bahan masakan olahan daging ayam yang dikhususkan untuk anak-anak. Produk dibuat didasarkan pada kebutuhan para pelanggan yang senang mengkonsumsi daging. Sehingga inovasi sangat dibutuhkan dalam mengembangkan produk.

Review Desain

Produk Bel-Mart telah memenuhi kebutuhan pasar, terutama pasar dengan segmentasi kalangan menengah atas yang sadar akan mutu daging, akan tetapi praktis dalam mendapatkannya.

Pengenalan Produk

Dalam mengenalkan produknya, Bel-Mart melakukan delivery order dalam memudahkan pelanggan untuk mendapatkan produknya tanpa harus datang ke outlet. Akan tetapi Bel-Mart juga menyediakan outlet-outlet untuk menjual dan memperkenalkan produknya kepada pelanggan.

Evaluasi

Dengan memiliki jaringan Belmart, Sierad memiliki kendali penuh atas penjualan produk-produknya, sekaligus membangun alternatif jaringan penjualan selain jalur-jalur yang biasa dipakai oleh mereka (traditional dan modern market). Pilihan bentuk minimarket khusus produk tertentu juga merupakan pilihan tepat, karena bentuk itulah yang paling memungkinkan untuk berkembang di antara jepitan hipermarket dan minimarket,contohnya lihat bagaimana Top Buah dan Total Buah yang masih eksis.Kami melihat Belmart punya peluang besar untuk sukses, karena faktor diferensiasi produk, harga dan layanan sudah terpenuhi. Tinggal bagaimana Belmart mempertahankan konsistensi produk dan layanan, dan juga melakukan komunikasi ke target market tentang diferensiasi mereka.

Pihak yang bertanggung jawab dalam mengembangkan produk dan mengeluarkan produk beserta inovasi yang dimiliki perusahaan adalah Tim Design Produk.

 
Leave a comment

Posted by on April 6, 2013 in Analitical

 

Tags: ,